Perilaku hidup sehat oleh masyarakat, diyakini mampu membantu pencegahan dan penurunan penderita stunting di Kepulauan Seribu.
Kondisi ini menjadi hal utama yang perlu diperhatikan, karena penerapan perilaku hidup sehat dapat mencegah beberapa penyakit yang ditimbulkan bagi penderita stunting, seperti diare, kekurangan gizi dan lainnya.
Menurut Widya Utami, Kepala Seksi Penyehatan Air, Direktorat Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan saat menghadiri Pertemuan Konvergensi Lintas Sektor Terkait Upaya Pencegahan dan Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Hotel Orchardz, Jakarta, Rabu (06/03/2019) menilai, penerapan perilaku hidup sehat menjadi salah satu cara yang tepat agar bisa menurunkan jumlah stunting, dan hal tersebut mulai disadari masyarakat Kepulauan Seribu
“Perilaku hidup sehat tidak hanya kehidupan sehari-hari, tapi juga kebersihan lingkungan sekitar rumah. Diantaranya sanitasi air bersih, keberadaan jamban yang sehat, tidak buang air besar sembarangan, cuci tangan pake sabun, pengolahan makanan, pemberian imunisasi, pemberian asi dan lainnya,” kata Widya Utami.
Pertemuan Konvergensi Lintas Sektor Terkait Upaya Pencegahan dan Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting diselenggarakan sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Seribu melalui Sudin Kesehatan untuk menuntaskan penurunan jumlah stunting, salah satunya melibatkan UKPD/SKPD terkait untuk bekerjasama menjalankan program masing-masing.
“Kegiatan ini dilakukan sejak 5-6 Maret dan melibatkan UKPD/SKPD terkait agar stunting hilang dari Kepulauan Seribu, apalagi penyelesaian masalah stunting tidak bisa dilakukan Sudin Kesehatan sendiri,” kata Kasi Kesmas Sudin Kesehatan Kepulauan Seribu, Sudigdo.
Jumlah penderita stunting di Kepulauan Seribu sendiri sudah menurun drastis, dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, ada 41,3 % penderita stunting di Kepulauan Seribu dan tahun 2018 angka tersebut menurun menjadi 17,7 %.
Reporter : Petrus A