Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera (PHE OSES) sebagai bagian dari Regional Jawa Subholding Upstream Pertamina menjalankan komitmennya dalam mengimplementasikan program konservasi yang berkelanjutan di Pulau Sabira, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Komitmen ini sesuai dengan visi dan misi perusahaan serta selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB atau SDG’s) pada poin 14 dan 15 yakni mengelola dan melindungi ekosistem laut dan pesisir.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan pada 5 April lalu, PHE OSES bersama dengan Karang Taruna Pulau Sabira, perwakilan daerah setempat dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan topik bahasan yaitu pengembangan konservasi penyu sisik di Pulau Sabira. Penyu sisik tergolong dalam familia Cheloniidae yang tersebar di seluruh dunia dan terancam kepunahannya.
World Conservation Union mengklasifikasikan penyu sisik sebagai spesies kritis. Di Pulau Sabira sendiri, penyu sisik kerap terlihat naik ke permukaan untuk bertelur, mayoritas di bulan Juni dan Juli.
General Manager PHE OSES, Antonius Dwi Arinto mengatakan bahwa pondasi awal pelaksanaan program adalah perencanaan.
"PHE OSES bersama anggota kelompok serta para pemangku kepentingan bertemu dalam FGD ini untuk merumuskan program kerja yang akan dilaksanakan dalam mengembangkan konservasi di Pulau Sabira," kata Antonius dalam keterangan tertulis, Kamis (20/04/2023).
Beberapa topik dibahas di FGD ini mencakup rencana kerja dan rencana strategis yang akan dilakukan ke depannya. Karang Taruna dipilih sebagai mitra pelaksanaan kegiatan karena diyakini memiliki potensi dan kesadaran yang tinggi untuk pengembangan konservasi ini.
Sementara itu, Gunawan sebagai Ketua Karang Taruna Pulau Sabira mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan baik oleh perusahaan maupun oleh BKSDA atas kegiatan konservasi ini.
Sebelumnya, PHE OSES sudah memulai lebih dulu program konservasi penyu sisik dengan memberikan sosialisasi pelestarian dan mengelola pondok penyu sisik semi alami. Pondok tersebut dijadikan pusat informasi dan konservasi di mana telur-telur penyu hasil temuan masyarakat dipelihara hingga menetas dan dilepasliarkan saat sudah cukup umur.
Melalui sinergi antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat, konservasi ini dapat terus berjalan. Menurut data dari pengelola, setiap tahun hampir 300 tukik berhasil dilepasliarkan ke alam. Atas keberhasilannya dalam mengawal program ini, PHE OSES raih penghargaan dari Indonesia Green Award 2023 (IGA 2023) pada 22 Februari 2023 lalu.