Kepulauan Seribu menyimpan banyak tempat-tempat bersejarah saat kerajaan Belanda menyambangi dan berhasil menjajah Indonesia.
Bagian utara wilayah DKI Jakarta tersebut, merupakan salah satu tempat yang dijadikan Kerajaan Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk pertahanan.
Tepatnya di Pulau Onrust, Kelurahan Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, dahulu VOC menjadikan Pulau Onrust sebagai galangan kapal dan pergudangan lengkap dengan benteng sebagai pertahanan awal.
Pulau Onrust menjadi tempat bersejarah bagi kejayaan VOC, bersama dengan Pulau Cipir, Pulau Kelor dan Pulau Bidadari, hal ini karena berdiri benteng VOC yang kokoh kala itu.
Namun kini semuanya telah hancur dan hanya terlihat pondasi bangunan, karena abrasi air laut.
Tim Sudin Kominfotik Kepulauan Seribu berkesempatan mengunjungi Pulau Onrust yang kini masuk dalam cagar budaya, yang dikelola Unit Pengelola (UP) Museum Kebaharian Jakarta.
Menggunakan kapal kayu dari dermaga Muara Kamal Cengkareng, Jakarta, kami menyusuri lautan yang teduh menuju Pulau Onrust, dengan waktu tempuh 15-20 menit.
Saat tiba di dermaga Pulau Onrust, rindangnya pohon dan ornamen kincir angin mini khas negara Belanda menyambut kedatangan kami.
Tidak ada suara keramaian orang yang terdengar di telinga, hanya hembusan angin dan deburan ombak yang datang membisikkan telinga seakan menyampaikan pesan.
Pengunjung yang datang biasanya akan dipandu oleh tim yang telah disiapkan oleh UP Museum Kebaharian Jakarta, tapi kami memilih untuk menyusuri setiap inci lokasi Pulau Onrust yang penuh sejarah.
Ada 29 lokasi yang dapat dinikmati pengunjung di Pulau Onrust, meski mayoritas semuanya hanya reruntuhan bangunan dan sisa pondasi yang menjadi saksi sejarah.
Tapi itu semua tidak mengurangi nilai sejarah Pulau Onrust, yang memiliki arti Tidak Pernah Beristirahat atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Unrest. Maklum saja, pada tahun 1615 VOC pertama kali mendirikan sebuah galangan kapal dan sebuah gudang kecil. Selain sebagai galangan kapal, pada tahun 1618 Pulau Onrust digunakan sebagai pulau pertahanan. Sesuai namanya, bangunan di pulau ini sempat beberapa kali dilakukan renovasi oleh pihak kerajaan Belanda karena terdampak dari perang kala itu.
Tidak hanya masa kolonial Belanda, saat beralih ke Indonesia, pulau ini juga sempat dimaksimalkan untuk karantina Haji, karantina penyakit menular dan sejak tahun 1972 dilindungi oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai bangunan bersejarah untuk kepentingan edukasi.
Terlihat dari 29 lokasi yang ada di Pulau Onrust, terdapat penjara peninggalan Belanda dan Jepang, reruntuhan tower Mortello, reruntuhan benteng, reruntuhan asrama Haji hingga komplek makam Belanda yang menyimpan banyak misteri menarik untuk ditelusuri, salah satunya makam Maria van de Velve yang menjadi icon dari Pulau Onrust.
Sejarah di Pulau Onrust sendiri menarik perhatian kerajaan Belanda pasca kemerdekaan Indonesia, bahkan melibatkan arkeologi asal Indonesia, untuk menelusuri dan mengembangkan nilai-nilai sejarah yang tersimpan dan terpendam.
Pengunjung yang datang ke Pulau Onrust hanya perlu membayar Rp 5.000 bagi dewasa, Rp 3.000 bagi mahasiswa dan Rp 2.000 bagi pelajar, untuk bisa merasakan dan menyaksikan sejarah kesibukan pulau yang kini telah sunyi.