Setiap perusahaan pemerintah berkomitmen memberikan program tanggung jawab sosialnya atau Corporate Social Responsibility (CSR), yang berdampak bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya.

Komitmen inilah yang diwujudkan PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera (PHE OSES) anak usaha PT Pertamina (Persero), yang melakukan usaha ekplorasi dan produksi minyak dan gas di wilayah offshore atau lepas pantai untuk wilayah Sumatera bagian tenggara atau tepatnya di Bangka Belitung dan Lampung Timur, kemudian di Serang, Banten, serta Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Program CSR yang dilakukan PHE OSES di Kepulauan Seribu adalah Palu Gada, yang diselenggarakan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, di mana PHE OSES menyerahkan bantuan Rumah Apung Produksi Pakan kepada Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kerapu Cantik Pulau Panggang pada Juli lalu.

Melalui program Palu Gada, PHE OSES berupaya melakukan pemberdayaan masyarakat sekaligus pelestarian Lingkungan-Perikanan, dengan inovasinya pakan alternatif berbasis sumberdaya lokal dalam hal ini adalah limbah organik masyarakat, yang dimanfaatkan menggunakan teknologi biokonversi cacing maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF), serta pengembangan formulasi pakan based on kearifan masyarakat.

Cacing maggot atau Hermetia illicens dalam bahasa latin merupakan hewan yang berguna untuk mengurai sampah dan menjadi salah satu alat biokonversi, hal ini membantu menekan jumlah sampah yang menjadi kendala di Kepulauan Seribu, terlebih lagi budi daya maggot tidak begitu sulit untuk dikembangkan, mengingat maggot berkembang biak dengan alami sehingga mudah untuk mendapatkannya.

Tidak hanya itu, kehadiran cacing maggot di Rumah Apung Produksi Pakan juga menjadi pendukung pakan ikan bagi Pokdakan Kerapu Cantik Pulau Panggang dan nelayan, terlebih lagi cacing maggot dikenal sangat efektif bagi lingkungan serta memiliki nutrisi bagi ikan.

Seperti diketahui, pakan ikan yang menjadi kebutuhan para pembudidaya ikan dan nelayan di Kepulauan Seribu memiliki nilai ekonomi yang tinggi, kondisi ini sangat membebani para nelayan, terlebih lagi pasca pandemi Covid-19, perekonomian masyarakat di Kepulauan Seribu belum seluruhnya pulih, serta budi daya ikan sangat menurun.

Keberadaan cacing maggot menjadi angin segar untuk kembali memulihkan kebutuhan para pembudidaya ikan dan nelayan di Pulau Panggang, terlebih lagi hewan ini mengandung nutrisi dan protein hewani tinggi bagi ikan sekitar 41-42 persen, sehingga menjadi pendukung bagi pengembangbiakkan ikan.

Menurut Ketua Pokdakan Kerapu Cantik Pulau Panggang, Fadil menjelaskan, pihaknya perlu bekerja keras untuk bisa mengembangbiakkan ikan yang dikelolanya, mengingat harga pakan yang semakin mahal membuat produksi ikan menurun.

“Pasca pandemi Covid-19, harga pakan mahal, kami sulit mengembangbiakkan ikan dan membuat produksi ikan berkurang, kami pun harus memberikan pakan ikan dengan kualitas yang menurun untuk menekan biaya,” kata Fadil, Selasa (03/10/2023).

Kehadiran Rumah Apung Produksi Pakan diakui Fadil menjadi pelepas dahaga Pokdakan Kerapu Cantik Pulau Panggang dan nelayan, untuk bisa meningkatkan kembali produksi ikan yang selama ini menurun.

“Kehadiran Rumah Apung Produksi Pakan dari PHE OSES menjadi pendukung kami dalam meningkatkan produksi ikan dengan biaya yang ekonomis, terlebih lagi kehadiran cacing maggot sebagai pakan memiliki nutrisi tinggi bagi ikan, terima kasih atas dukungan PHE OSES yang telah membantu kami menekan biaya pakan ikan," tuturnya.

Sementara itu, Kasi Ketahanan Pangan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Kepulauan Seribu, Parsan menilai, kehadiran cacing maggot bagi pembudidaya ikan sangat penting, mengingat cacing ini menjadi pemicu peningkatan produksi pakan serta salah satu komoditi utama untuk menyelesaikan masalah sampah yang ada di wilayah Kepulauan Seribu.

"Kabupaten Kepulauan Seribu menyambut positif dukungan CSR yang diberikan PHE OSES, karena bantuan Rumah Apung Produksi Pakan yang diisi cacing maggot memiliki dua dampak positif, yaitu dari sisi pelestarian lingkungan untuk mengurai sampah dan membantu kebutuhan Pokdakan Kerapu Cantik Pulau Panggang serta nelayan, sehingga meningkatkan kemandirian pangan," kata Parsan.

Dalam menjalankan program CSR, PHE OSES membuat rumusan strategi agar dapat mengelola dampak yang ditimbulkannya, yakni dengan melakukan dan menjaga keseimbangan bisnis secara efektif dan efisien antara operasi dan tanggung jawab sosial dan lingkungan, dengan mempertimbangkan peraturan perundang-undangan, tata nilai unggulan Perseroan serta prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). PHE OSES juga melaksanakan pemberdayaan masyarakat yang berkearifan lokal dengan mengangkat potensi unggulan di wilayah operasi perseroan yang  disertai pembinaan hubungan baik dengan berbagai pemangku kepentingan terkait.

Direktur Utama PT Pertamina EP Regional 2 Jawa, Wisnu Hindadari menjelaskan, sebagai perusahaan subholding Upstream Pertamina Regional Jawa yang memiliki wilayah kerja OSES dan ONWJ, pihaknya terus menunjukkan komitmen melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM), untuk menyejahterakan masyarakat setempat yang kali ini dilakukan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara.

"Dalam menjalankan program Palu Gada, kita melakukan survei terlebih dahulu dengan melihat kebutuhan masyarakat yang tepat sasaran. Kali ini kita berikan bantuan berupa Rumah Apung Produksi Pakan, agar produksi ikan semakin meningkat dan menciptakan kemandirian pakan bagi pembudidaya, terlebih lagi pakan yang disiapkan dalam Rumah Apung ini adalah cacing maggot yang dikenal kaya nutrisi bagi ikan," kata Wisnu.

Wisnu menambahkan, melalui dukungan ini pembudidaya ikan akan merasakan keuntungannya dari sisi penguatan pakan, sehingga meringankan biaya pakan produksi ikan bisa meningkat.