Profesi nelayan di Kepulauan Seribu memiliki berbagai tantangan, dalam menghadapi luasnya lautan yang tidak menentu.
Cuaca menjadi faktor utama bagi nelayan dalam meraih hasil tangkapannya, saat alam tidak mengizinkan, para nelayan menghabiskan waktunya dengan memperbaiki jaring atau kapal yang diservis.
Namun, berbeda dengan Bahrudin, nelayan dari Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Serbu Utara, melakukan perubahan dengan mengurangi sampah yang bermuara ke laut.
Bahrudin memanfaatkan limbah kayu menjadi ragam kerajinan, salah satunya membuat miniatur kapal dan umpan pancing, atau biasa disebut udang-udangan. Kepiawaiannya dalam mengukir miniatur kapal seperti aslinya dan menirukan bentuk udang membuat nelayan-nelayan lain dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mancing Bahagia tertarik untuk turut mengolah limbah kayu.
Pengolahan limbah kayu ini sendiri memiliki keterbatasan sarana dan prasarana, seperti masih rendahnya kontrol atas kualitas produk, pembuatan umpan pancing secara manual, serta segi kualitas produk, tapi juga tuntutan untuk memenuhi permintaan (demand) produk.
Melihat tantangan dan potensi ini, Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES), yang beroperasi di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, berkolaborasi dengan KUB Mancing Bahagia untuk menginisiasi program yang diberi nama Pelaut Tangguh, akronim dari Peningkatan Pendapatan Nelayan yang Tanggap, Guyub dan Humanis.
“Fokus program Pelaut Tangguh adalah peningkatan pendapatan nelayan, yang dilakukan melalui dua pendekatan, yakni optimalisasi tangkapan hasil laut melalui dukungan terhadap nelayan tangkap, dan menggagas sumber pendapatan alternatif,” kata Head of Communication, Relations and CID PHE OSES Indra Darmawan, Senin (02/06/2025).
Melalui program Pelaut Tangguh, PHE OSES memberikan bantuan kepada KUB Mancing Bahagia berupa mesin duplikator untuk membuat umpan kayu secara otomatis, dengan presisi dan lebih efisien. Tak hanya itu, PHE OSES juga membangun bengkel workshop yang digunakan untuk mengolah dan mengkreasikan kayu-kayu sisa menjadi barang bernilai.
Selain itu, PHE OSES juga membawa Bahrudin dan anggota KUB Mancing Bahagia ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melakukan studi banding. Di sana, mereka belajar tentang manajemen usaha dan penguatan kelompok.
Kerajinan miniatur kapal dan umpan pancing hasil kreasi mereka dipasarkan di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Sejak Juni 2024 hingga April 2025, total omzet penjualan mencapai sekitar Rp25 juta.