Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan berhasil mengolah lumpur hasil dari Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD), yang sudah diubah menjadi media tanam ramah lingkungan.
Kegiatan pengolahan yang telah berlangsung selama dua pekan di sekitar zona utara SPALD Pulau Tidung, merupakan kolaborasi petugas PJLP Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kepulauan Seribu dan Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kepulauan Seribu.
Kepala Seksi Air Bersih dan Air Limbah Suku Dinas SDA Kepulauan Seribu, Rezky Arie Pranata menyampaikan, inovasi ini merupakan bagian dari aksi perubahan yang didorong oleh keterbatasan armada penyedot lumpur di wilayah kepulauan.
“Selama ini lumpur di pulau belum tersedia armada penyedot, sehingga kami mencari cara alternatif agar limbah ini tidak mencemari lingkungan,” ujar Rezky, Senin (02/06/2025).
Lumpur dari hasil pengolahan IPAL, termasuk endapan dari manhole yang rutin dibersihkan, kini dikumpulkan dalam karung dan ditempatkan di bak pengering. Setelah dikeringkan, lumpur tersebut dicampur dengan kompos hasil pengolahan sampah organik, dan dimanfaatkan sebagai media tanam.
“Subur dan hasilnya bagus. Ini jauh lebih efisien. Kita bisa produksi media tanam sendiri dari lumpur SPALD,” tambahnya.
Rezky menjelaskan, program ini juga melibatkan masyarakat secara langsung sebagai bentuk pemberdayaan. Banyak warga yang sebelumnya sudah antusias meminta lumpur ini sebagai pupuk, namun belum dapat digunakan karena masih mengandung bakteri. Melalui proses pengeringan dan pencampuran dengan kompos, lumpur kini aman dimanfaatkan sebagai media tanam.
Inovasi ini menjadi bagian dari program jangka pendek selama dua bulan ke depan, dengan target, yaitu Identifikasi dan pengumpulan lumpur SPALD dan kompos organik yang layak, Pencampuran lumpur IPAL dan kompos menjadi media tanam.
"Penyusunan panduan proses pengolahan dan pemanfaatan, Pelibatan awal masyarakat dan pemangku kepentingan di Pulau Tidung," jelas Rezky.
Sementara itu, Anggota Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu Selatan, Munawar mengapresiasi upaya yang telah dilakukan.
“Kalau memang bermanfaat bagi masyarakat, tentu kami sangat mendukung. Inisiatif seperti ini bisa jadi contoh pengelolaan limbah berbasis masyarakat,” ujar Munawar.
Selain membantu penyediaan media tanam yang berkualitas, program ini juga diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat penumpukan lumpur dan limbah organik.
"Serta meningkatkan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan," tandasnya.