Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, menyelenggarakan kegiatan kolaboratif berupa Pembinaan Literasi Keuangan di Gedung Karang Taruna, Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, Selasa (24/6/2025).
Acara ini dihadiri langsung Kepala Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jabodebek, Nuning Isnainijati, Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta, Nurul Hasanuddin, Kepala BPS Kepulauan Seribu, Alfonso Triantoro, Sekretaris Kelurahan Pulau Panggang, Muhammad Nuralim dan masyarakat.
Menurut Nuning, kemandirian finansial sangat penting, khususnya di tengah maraknya penipuan investasi ilegal dan pinjaman online ilegal yang banyak menyasar masyarakat.
“Indeks inklusi keuangan kita sudah mencapai 80,51 persen, tapi literasi keuangannya baru 66 persen. Artinya, masyarakat sudah banyak yang menggunakan produk keuangan, namun belum memahami risikonya,” ujar Nuning.
Nuning mengaku, OJK juga mendorong masyarakat untuk menjadi agen literasi melalui pelatihan Training of Trainer (ToT), sehingga melalui program ini, peserta dibekali pengetahuan yang dapat diteruskan kepada keluarga dan komunitasnya.
Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanuddin, menekankan pentingnya literasi statistik dalam mewujudkan Jakarta sebagai Kota Global pada tahun 2045.
“Ini bukan hanya soal data, tapi soal bagaimana masyarakat memahami informasi statistik untuk kehidupan. Literasi statistik dan keuangan adalah kunci,” jelasnya.
Nurul juga mengajak warga memanfaatkan layanan data dan konsultasi statistik gratis yang tersedia di Kantor BPS Kepulauan Seribu. Menurutnya, fasilitas ini terbuka untuk siswa, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang membutuhkan data pembangunan atau indikator sosial ekonomi lainnya.
Ia juga berharap Kelurahan Pulau Panggang bisa mengikuti jejak Kelurahan Pulogebang, yang telah masuk dalam daftar dua puluh kelurahan terbaik terbaik nasional dalam program Kelurahan Cantik.
Sementara itu, warga RW 02 Pulau Panggang, Fahrozi (52) mengaku senang bisa ikut serta dalam sosialisasi tersebut. Ia merasa kegiatan ini membuka wawasan baru mengenai keamanan dalam berinvestasi.
“Saya baru tahu perbedaan investasi legal dan ilegal dari kegiatan ini. Jadi sekarang lebih paham mana yang harus dihindari,” ungkap Fahrozi.