Suara riang dan ceria terdengar sangat jelas dari RPTRA Nyiur Melambai di Kelurahan Pulau Kelapa, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, seakan ingin menyapa matahari yang sinarnya sayup-sayup.

RPTRA Nyiur Melambai kala itu terlihat sangat ramai dengan kehadiran anak-anak, yang antusias mengikuti arahan gerak dan permainan dari pengajar di Kelas Montessori.

Kelas ini bukan layaknya belajar di sekolah formal, melainkan bagian dari program Selamatkan Stunting dan Gizi Buruk Bersama Pertamina (Seribu Asa), dengan penerapan metode Montessori yang fokus pada stimulasi dini dan perkembangan anak secara holistik, yang diselenggarakan PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatra (PHE OSES) di Kelurahan Pulau Kelapa dalam penanganan anak terindikasi stunting.

Perjalanan kelas ini penuh perjuangan dan tekad sejak awal berdiri tahun 2023, dengan dimotori kader PKK dan Dasawisma yang berkomitmen meningkatkan gizi anak-anak yang terindikasi stunting.

"Awalnya kelas ini tidak mendapat perhatian, bahkan para orang tua yang anak-anaknya terindikasi stunting tidak mau ikut, karena merasa malu dan minder anaknya dikategorikan terindikasi stunting. Meski berat, situasi ini menjadi tantangan dan membuat kami terus bergerak memberikan penyuluhan ke rumah-rumah yang anaknya terindikasi stunting, kita tetap berikan asupan gizi anaknya, bahkan saat kita pantau langsung dan tunggu anak tersebut makan hingga selesai," kata Penanggung Jawab Kelas Montessori di Kelurahan Pulau Kelapa, Masia Aristia.

Masia yang biasa disapa Gadis menjelaskan, Kelas Montessori yang melibatkan guru PAUD dan Bidan dari Puskesmas, setahap demi setahap memberikan dampak positif bagi orang tua serta anak-anak secara langsung, dengan menunjukkan angka penurunan anak terindikasi stunting, mulai dari 36 anak pada tahun 2023 menjadi 14 anak pada tahun 2025.

“Selain pemberian makan bergizi, peserta Kelas Montessori mendapatkan metode skrining untuk menyesuaikan metode motorik dari guru PAUD. Sedangkan keterlibatan Bidan dari Puskesmas untuk melihat tumbuh kembang anak sesuai umur dan refrensi makanan bergizi, jadi kita tidak sembarangan dalam menentukan nilai gizinya,” jelasnya.

Kelas Montessori tidak hanya memberikan senyum ceria anak-anak yang mengikut permainan motorik, para orang tua juga semangat mengantar anaknya untuk ikut kelas yang diselenggarakan setiap Senin-Kamis.

Salah satu orang tua di Kelas Montessori, Juliani (36) mengaku senang dengan kehadiran Kelas Montessori, karena sangat terbantu dalam tumbuh kembang anaknya dan tidak lagi terindikasi stunting.

“Alhamdulillah, berat badan anak saya yang dulu hanya 10 kg sekarang sudah 12 kg. Tingginya juga bertambah jadi 96 cm. Terima kasih kepada PHE OSES dan semua pihak yang peduli,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan salah satu orang tua di Kelas Montessori, Sipa (31) yang mengaku senang anaknya mengikuti Kelas Montessori karena mengalami kendala dalam tinggi badan.

“Pada bulan Juli tinggi anak saya 83,1 cm, namun pada bulan Agustus sudah 84 cm. Saya senang sekali anak saya mengikuti Kelas Montessori, karena mendapatkan makanan bergizi, vitamin dan nafsu makan semakin tinggi, sehingga pertumbuhan anak saya berjalan baik, terima kasih atas perhatian PHE OSES yang memberikan dukungan terhadap gizi anak saya,” ucapnya.

Selain Kelas Montessori, program Seribu Asa yang didukung penuh PHE OSES mencakup juga aktivitas Pemberian Makanan Utama (PMU-red) bagi anak-anak stunting dan ibu hamil dengan kondisi anemia dan Kekurangan Energi Kronis, serta penyuluhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Program Seribu Asa juga melibatkan tim Dapur Sehat atau Tim Dashat yang terdiri dari para ibu juru masak dari tiap PKK kelurahan setempat, para kader Posyandu, kader PKK, Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (Sudin PPAPP) Kepulauan Seribu.

Tugas yang diemban Tim Dashat sangat penting, termasuk dalam menentukan menu dan bahan makanan yang sesuai, memproses dan memasak, hingga mendistribusikan makanan bergizi ini kepada anak.

Menu makanan dilakukan sebanyak dua kali sehari, berupa kudapan dan makanan utama yang terdiri atas karbohidrat, protein nabati dan hewani, sayur, buah, dan susu bubuk khusus. Kualitas hingga higienitas makanan diawasi ketat oleh ahli gizi setempat.

Dalam suplai bahan makanan yang bermutu, Tim Dashat melibatkan komunitas setempat untuk mendapatkan sumber protein lokal. Bekerja sama dengan nelayan yang dibina PHE OSES, Tim Dashat mendapat pasokan ikan segar. Sementara itu, pedagang tempatan juga menyediakan sumber protein hewani dan nabati, serta sayuran dari pasar lokal.

Head of Comunication Relations and CID PHE OSES,  Indra Darmawan mengaku, kegiatan ini adalah bentuk komitmen PHE OSES untuk mendukung program Pemerintah menurunkan angka stunting, khususnya di Kepulauan Seribu.

"Dalam program Seribu Asa ada juga kegiatan menyosialisasikan metode pembelajaran anak montessori, untuk mengoptimalkan perkembangan dan kecukupan gizi pada anak. PHE OSES bersama Kabupaten Kepulauan Seribu, berkomitmen dalam menekan jumlah anak-anak yang terindikasi stunting" ungkapnya.