Sebanyak 24 warga Pulau Kelapa dan Pulau Harapan mengikuti Pelatihan Budidaya Kepiting Bakau Melalui Metode Silvofishery, untuk meningkatkan potensi di wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Kegiatan ini bagian dari Program Tiga Perisai, yang digagas PT Pertamina Hulu Energi (PHE) OSES, sebagai upaya mendorong pengembangan usaha perikanan berbasis ekosistem mangrove yang berkelanjutan di Kelurahan Pulau Kelapa dan Kelurahan Pulau Harapan.

Tercatat, puluhan peserta pelatihan berasal dari anggota mitra binaan Sentra Penyuluhan Kehutanan dan Pedesaan (SPKP) Elang Bondol dan SPKP Bintang Laut.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Nur Syafaat, S.Pi., M.Sc., Ph.D., peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN. 

Peserta dalam pelatihan ini mendapat materi pengenalan dasar mengenai morfologi kepiting bakau, mulai dari jenis-jenis kepiting bakau yang ada di Indonesia, karakteristik masing-masing jenis, hingga kesesuaian habitatnya. Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan berbagai metode budidaya kepiting bakau. 

Metode Silvofishery sendiri merupakan sistem terpadu yang menggabungkan kegiatan budidaya perikanan seperti ikan, udang, dan kepiting dengan penanaman serta pengelolaan hutan mangrove secara bersamaan. Pendekatan ini bertujuan menciptakan keseimbangan antara aspek ekologi dan ekonomi secara berkelanjutan. Dalam sistem ini, mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pesisir, penyedia pakan alami, penyaring kualitas air, serta penstabil ekosistem, sementara kegiatan perikanan memberikan nilai ekonomi dan sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir.

"Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, mengapresiasi PHE OSES atas terselenggaranya pelatihan ini. Kegiatan ini sejalan dengan upaya Pemerintah dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal masyarakat pesisir yang tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan serta mendukung kemandirian pangan,” ujar Camat Kepulauan Seribu Utara, Yulihardi, Sabtu (20/12/2025).

Sementara itu, Head of Communication Relations dan CID PHE OSES, Indra Darmawan menjelaskan, Program Tiga Perisai dirancang sebagai upaya jangka panjang untuk membangun kemandirian masyarakat melalui pendekatan yang berkelanjutan.

"Kami percaya bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir harus berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. Melalui pelatihan budidaya kepiting bakau dengan Metode Silvofishery ini, PHE OSES ingin mendorong tumbuhnya usaha perikanan yang produktif sekaligus menjaga ekosistem mangrove sebagai aset penting wilayah pesisir,” ujar Indra.
 
Sebagai tindak lanjut dari pelatihan ini, PHE OSES akan memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana budidaya kepiting bakau serta bantuan bibit kepiting bakau kepada SPKP Elang Bondol dan SPKP Bintang Laut. Dukungan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi kelompok dalam menerapkan metode silvofishery secara berkelanjutan dan mengembangkan usaha budidaya di wilayah masing-masing.

Sementara itu, salah seorang peserta pelatihan Iskandar mengaku senang bisa terlibat dalam pelatihan ini, sehingga memberi sudut pandang baru tentang bagaimana mangrove dapat dimanfaatkan secara bijak.

"Selama ini kami tahu mangrove itu penting untuk lingkungan, tapi belum terpikir bahwa mangrove juga bisa dimanfaatkan untuk budidaya kepiting tanpa merusaknya. Dari pelatihan ini, kami jadi lebih paham cara budidaya yang benar dan ramah lingkungan. Harapannya, ini bisa menjadi sumber penghasilan baru yang berkelanjutan bagi kelompok dan keluarga kami,” tutur Iskandar.